Kuliah Penutup Geografi Pariwisata

Tim mata kuliah Geografi Pariwisata Jurusan Geografi mengundang Bapak Ritno Kurniawan,
SP sebagai pemateri
dan nara sumber dalam kuliah penutup Geografi Pariwisata dengan tema ‘Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Studi Kasus Air terjun Nyarai Lubuk Alung’ yang dilaksanakan pada Hari Rabu Tanggal 17 Mei 2017. Beliau yang masih muda (31 tahun), dikenal sebagai pemuda penggerak pariwisata sejak tahun 2012 yang sukses mengenalkan objek wisata minat khusus yaitu objek wisata Air Terjun Nyarai di Hutan Gamaran Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman menjadi objek ekowisata yang mendunia.  Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 2011, berkat kegigihan usahanya memberdayakan masyarakat dari kegiatan illegal logging menjadi pemandu wisata dan kegiatan lainnya yang terkait
dengan  wisata, Bapak Ritno  memperoleh  berbagai penghargaan  seperti   Juara I
Pemuda Pelopor  Sumbar  (2013),  dan Juara Harapan I Pemuda Pelopor Tingkat Nasional (2014), Juara II Kelompok Sadar Wisata Nasional (Pokdarwis) (2014), Juara II Wirausaha Muda Pemula Mandiri Tingkat Nasional (2015), Juara I Inovasi Manajemen Lingkungan dari Sermen Padang (2016), Alumni Muda Berprestasi UGM tahun 2016, dan melalui LA adventure menjadi Juara I Asosiasi “Outdoor” Eropa yang peduli pada isu lingkungan dan wisata “outdoor” dunia (EOCA) tahun 2016 . Sebagai Sosiopreneur, beliau saat ini menjadi
Ketua Pokdarwis LA Adventure dan konsultan penggerak pariwisata Sumatera Barat.
Kuliah
penutup ini bermanfaat untuk
memberikan wawasan bagi mahasiswa bagaimana aplikasi pengembangan pariwisata di Sumatera Barat terutama ekowisata (wisata minat khusus), sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa bagaimana langkah-langkah serta pengalaman membangun suatu kegiatan pariwisata berbasis masyarakat melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan sekaligus menjadi sosiopreneur.
Dikatakan bahwa untuk membangun pariwisata kita harus mengetahui beberapa strategi, pertama “POSISI” dari pengembangan objek wisata yang akan kita kembangkan dari segi akses dan juga faktor fisik kawasan wisata, kedua “POTENSI” apa yang ada di daerah wisata sehingga bisa di eksplore dan berbeda dengan wisata lain yang mempunyai ciri khas. Pengalaman beliau menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan dibukanya jalan yang lebar ke Air Terjun Nyarai, tapi setelah diberikan pengertian bahwa dengan membangun jalan akan menyebabkan kekhasan lokasi hilang karena akan sama dengan wilayah lain (misalnya lembah anai) maka jalan menuju Air Terjun Nyarai sepakat untuk dibiarkan seperti apa adanya. Ketiga “PROMOSI” baik media cetak maupun online, setidaknya dengan satu orang yang datang ke Wisata Nyarai, selanjutnya akan memberikan informasi kepada satu orang temannya, keempat “MANAGEMEN KELOMPOK” dalam membangun suatu kegiatan pariwisata yang saling berkesinambungan dengan melibatkan masyarakat, pemuda, tokoh masyarakat, lembaga kemasyarakatan dan lembaga pemerintah yang ada di daerah pengembangan wisata. Lebih lanjut dikatakan perlunya inovasi dan kemungkinan peluang-peluang yang bisa dikembangkan lagi dalam suatu kawasan wisata sehingga wisatawan yang ditangkap datang ke objek wisata bukan dalam jumlah massal, tetapi dalam bentuk kelompok dan individu yang menikmati semua fasilitas atau penawaran yang diberikan berupa paket-paket wisata yang sudah dipromosikan baik paket dalam bentuk 2 hari 2 malam ataupun 3 hari 3 malam seperti tertera pada brosur promosi. Dalam hal ini mahasiswa sangat antusias menanggapi materi yang disampaikan, karena mereka tidak hanya mempelajari dari segi teoritik tetapi juga bagaimana aplikasi di lapangan sehingga memunculkan ide-ide baru dan kreativitas dalam kegiatan pariwisata, yang selanjutnya diharapkan mampu menjadi seorang mahasiswa yang “good skills to be excellent person”.