Jakarta, 2026 – Program Applied Remote Sensing Training (ARSET) milik NASA menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk“Harnessing NISAR: Next-Generation Radar Observations for Earth Applications” untuk memperkenalkan pemanfaatan data satelit radar generasi terbaru NISAR (NASA-ISRO Synthetic Aperture Radar) bagi berbagai aplikasi kebumian. Pelatihan ini berlangsung dalam tiga sesi sepanjang 2–16 Juli 2026 dan ditujukan bagi pengguna penginderaan jauh, analis geospasial, akademisi, mahasiswa, serta pengambil kebijakan dari lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah.
NISAR merupakan misi satelit kolaboratif antara NASA dan Indian Space Research Organisation (ISRO) yang menyediakan data Synthetic Aperture Radar (SAR). Teknologi SAR memiliki keunggulan mampu mengamati permukaan bumi siang maupun malam serta menembus kondisi cuaca yang umumnya menghambat pengamatan optik, seperti awan tebal dan hujan. Kemampuan ini menjadikan NISAR sangat penting bagi wilayah tropis dan daerah lintang tinggi yang sering mengalami keterbatasan pengamatan.
Menurut penyelenggara, pelatihan ini dirancang untuk membantu pengguna memahami karakteristik unik data NISAR, sekaligus mempelajari cara mengakses, memvisualisasikan, dan menganalisis data tersebut untuk kebutuhan penelitian maupun pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Pelatihan terdiri atas tiga sesi utama. Sesi pertama membahas pengenalan misi NISAR, kemampuan dan produk datanya, termasuk demonstrasi penggunaan data amplitudo untuk deteksi dan pemantauan banjir. Sesi kedua berfokus pada akses data dan penggunaan berbagai alat analisis melalui platform Earthdata NASA, Alaska Satellite Facility (ASF), serta portal Bhoonidhi milik ISRO. Sementara itu, sesi ketiga mengulas data Interferometric SAR (InSAR) yang dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kawasan rawan bencana dan menilai dampak kejadian ekstrem seperti gempa bumi dan tanah longsor.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu memahami karakteristik, kemampuan, serta keterbatasan data NISAR. Selain itu, peserta akan belajar bagaimana data tersebut dapat digunakan dalam mendukung keputusan terkait banjir, pertanian, gempa bumi, dan tanah longsor. Mereka juga akan mendapatkan keterampilan praktis untuk mengakses serta menganalisis data melalui platform ASF DAAC dan ISRO Bhoonidhi.
Salah satu keunggulan pelatihan ini adalah praktik langsung menggunakan perangkat lunak QGIS. Peserta akan diajarkan membuat peta banjir, peta risiko longsor, hingga peta deformasi permukaan akibat aktivitas vulkanik maupun gempa menggunakan data interferogram NISAR. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan informasi geospasial untuk mitigasi bencana dan pengelolaan sumber daya alam.
Pelatihan dipandu oleh Erika Podest dari Jet Propulsion Laboratory (JPL)–Caltech, dengan dukungan sejumlah instruktur tamu dari Alaska Satellite Facility, University of Alaska Fairbanks, ISRO National Remote Sensing Centre, serta pakar InSAR JPL/Caltech. Format pelatihan mencakup penyampaian materi selama dua jam dan sesi tanya jawab langsung selama 30 menit pada setiap pertemuan. Peserta yang mengikuti seluruh sesi dan menyelesaikan tugas yang diberikan akan memperoleh sertifikat keikutsertaan dari ARSET NASA.
Dengan semakin terbukanya akses terhadap data radar satelit generasi baru, NASA berharap pelatihan ini dapat memperluas pemanfaatan NISAR dalam berbagai bidang, mulai dari pemantauan lingkungan, manajemen bencana, pertanian, hingga penelitian kebumian, sehingga menghasilkan informasi yang lebih akurat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan terhadap bencana.
Sumber: NASA Earthdata ARSET – Harnessing NISAR: Next-Generation Radar Observations for Earth Applications. [earthdata.nasa.gov]
