BANDAR LAMPUNG – Penguatan pendidikan Geografi menjadi fokus kolaborasi Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Lampung (UNILA) melalui penyelenggaraan kuliah umum di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNILA, Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan tiga akademisi dari kedua perguruan tinggi untuk membahas isu lingkungan, mitigasi bencana, inovasi pembelajaran, serta kajian geografi regional.
Dua dosen UNP, Prof. Dr. Ernawati, M.Si. dan Dr. Nofrion, M.Pd., hadir sebagai pemateri bersama Dian Utami, M.Pd. dari UNILA. Kuliah umum tersebut merupakan hasil kerja sama Program Studi Pendidikan Geografi FKIP UNILA dengan Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP dalam rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tematik 2026. Sebanyak 200 mahasiswa dan dosen dari kedua program studi berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Kepala Departemen Geografi FIS UNP, Dr. Febriandi, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan akademik bersama ini menjadi salah satu langkah untuk mempererat hubungan antarlembaga sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan dalam pengembangan pendidikan Geografi. Kolaborasi tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Pendidikan Lingkungan sebagai Fondasi Mitigasi Bencana
Dalam sesi pemaparan materi, Guru Besar UNP bidang Pendidikan Lingkungan, Prof. Dr. Ernawati, M.Si., mengangkat topik “Perilaku Peduli Lingkungan sebagai Langkah Mitigasi Bencana”. Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan perlu dimulai sejak usia dini dan dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendidikan, sehingga menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Menurut Ernawati, pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata. Upaya membangun kesadaran tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui gerakan bersama yang terencana dan saling mendukung.
Gagasan ini berkaitan dengan SDG 4 yang mendorong pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan serta SDG 13 mengenai penanganan perubahan iklim. Melalui pendidikan yang tepat, peserta didik diharapkan memiliki pemahaman lebih baik mengenai risiko lingkungan, upaya pencegahan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pendekatan kolaboratif yang ditekankan dalam paparannya juga sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Ernawati turut mengaitkan kajian Geografi dengan kebutuhan akan data spasial yang konsisten. Menurutnya, perbedaan peta yang digunakan oleh berbagai lembaga pada masa lalu berpotensi menyulitkan koordinasi dan pengambilan keputusan. Karena itu, kebijakan Satu Peta (One Map Policy) menjadi penting untuk mendukung keseragaman informasi geospasial, termasuk dalam pemetaan potensi bahaya dan mitigasi bencana.
Ketersediaan informasi geospasial yang terintegrasi dapat membantu perencanaan wilayah dan pengurangan risiko bencana secara lebih terarah. Hal tersebut relevan dengan SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
STEAM dan Public Speaking untuk Pembelajaran Geografi Abad Ke-21
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Nofrion, M.Pd., yang menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Inovasi Pembelajaran, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Direktorat Akademik UNP. Dalam presentasinya yang berjudul “Implementasi STEAM dan Kontribusi Public Speaking dalam Pembelajaran Geografi”, ia menguraikan pentingnya pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan mampu menyelesaikan persoalan kontekstual.
Nofrion menjelaskan bahwa pendekatan STEAM, yang mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics, memberikan kesempatan kepada murid untuk menghubungkan pengetahuan lintas bidang dengan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pemahaman konsep, tetapi juga pada kemampuan mengidentifikasi masalah, menjelaskan penyebabnya, dan menyusun alternatif solusi.
Penerapan pendekatan tersebut di jenjang pendidikan dasar dan menengah diharapkan dapat memperkuat literasi sains dan teknologi serta kemampuan analitis peserta didik. Selain itu, pembelajaran yang kontekstual dan terintegrasi dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkecil kesenjangan mutu pembelajaran antarsekolah. Kontribusi ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan.
Penulis buku Komunikasi Pendidikan dan Public Speaking dalam Pembelajaran itu juga menyoroti peran keterampilan komunikasi dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, guru perlu membangun kepercayaan dan hubungan positif dengan murid melalui komunikasi yang efektif, penyampaian materi yang menarik, serta kemampuan berbicara di depan kelas.
Ia menekankan bahwa penguasaan materi pelajaran perlu diimbangi dengan kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Kompetensi tersebut semakin penting dalam menghadapi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi. Penguatan kemampuan komunikasi guru pun menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan mendukung SDG 4.
Menutup paparannya, Nofrion menyampaikan pesan, “Communication is the backbone of community.” Pesan tersebut menegaskan bahwa komunikasi merupakan unsur penting dalam membangun hubungan, menciptakan pemahaman bersama, dan mengembangkan komunitas pembelajaran yang efektif.
Sementara itu, Dian Utami, M.Pd., mewakili UNILA dengan memaparkan materi “Lampung dalam Kajian Geografi Regional”. Materi ini melengkapi diskusi dengan perspektif kewilayahan yang menjadi bagian penting dalam pengembangan keilmuan Geografi.
Memperkuat Sinergi Antarperguruan Tinggi
Penyelenggaraan kuliah umum ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik bagi dosen serta mahasiswa UNP dan UNILA. Pembahasan mengenai pendidikan lingkungan, mitigasi bencana, pendekatan STEAM, komunikasi pembelajaran, dan geografi regional memperlihatkan luasnya kontribusi ilmu Geografi dalam menjawab tantangan pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.
Kedua program studi berharap kerja sama akademik tersebut dapat terus dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran, pertukaran wawasan, dan berbagai bentuk kolaborasi lainnya. Sinergi ant perguruan tinggi diharapkan turut mendorong lahirnya inovasi pembelajaran serta peningkatan kualitas pendidikan Geografi di Indonesia.


